Jumat, 11 September 2015

Metode Demonstrasi dan Metode Eksperimen



Perbedaan Metode Demostrasi dan Metode Eksperimen

A. Metode Demonstrasi
            Menurut Fathurahman dan Sutikano (2007 : 62 ) metode demonstrasi diartikan sebagai cara penyajian pelajaran dengan memperagakan atau mempertunjukan kepada peserta didik suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang di pelajari baik dalam bentuk yang sebenarnya maupun dalam bentuk tiruan yang dipertunjukan oleh guru atau sumber belajar lain-lain yang memahami.
            Metode demonstrasi biasanya berkenan dengan tindakan-tindakan atau proses yang harus dilakukan misalnya proses mengatur sesuatu, proses megerjakan sesuatu, menggunakan komponen-komponen yang membentuk, membandingkan atau melihat kebenaran suatu. Metode ini membantu para siswa mencari atau menemukan jawaban sendiri berdasrkan fakta atau data yang benar. ( Sudjana, 2005 : 83 ). Selanjutnya metode demonstrasi merupakan metode mengajar yang unsur  penonjolan kebolehan mengajar dengan melibatkan siswa secara efektif.
            Menurut Moejiono dan Dimyati ( 1991/1992 : 155) mengatakan dalam melaksanakan metode demonstrasi seorang guru hendaknya mengetahui :
            a. Tujuan
1.      Menunjukan suatu proses atau prosedur yang harus dimiliki atau di kuasai peserta didik.
2.      Menkongkritkan informasi atau penjelasan kepada peserta didik secara bersama-sama.
b. Alasan penggunaan
terdapat beberapa alas an mengapa seorang guru menggunakan metode ini yaitu :
1.      Tidak semua topik dapat diterangkan melalui penjelasan atau diskusi
2.      Sifat pelajaran yang menuntut di peragakan
3.      Tipe belajar peserta didik yang berbeda-beda
4.      Memudahkan pengajar tentang cara kerja suatu prosedur
c. Kelebihan dan Kekurangan Metode Demonstasi
1.      Kelebihan metode demonstrasi
a)      Membuat pelajaran lebih jelas, lebih konkrit dan menghindari ferbalisme
b)      Memudahkan peserta didik memahami bahan pelajaran
c)      Proses pengajaran akan lebih menarik
d)     Merangsang peserta didik lebih aktif mengamati dan mencoba sendiri
e)      Dapat di sajikan bahan pelajaran yang tidak dapat di lakukan dengan metode lain.
2. Kekurangan Metode Demonstrasi
a)      Memerlukan keterampilan guru secara khusus
b)      Keterbatasan dalam sumber belajar, alat pelajaran, situasi yang dikondisikan dan waktu untuk mendemonstrasikanya.
c)      Memerlukan waktu yang banyak
d)     Memerlukan kematangan dalam perencanaan dan persiapan
Menurut Ratna Kamayo, Amran Rede dan Sri Mulyani Sabang (2015 : 103-104) Metode demonstrasi merupakan salah satu alternativ yang dapat digunakan guru dalam mengembangkan pembelajaran didalam kelas, karena dalamm proses pembelajarannya yaitu dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan dalam melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun dengan menggunakan media pengajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang akan disajikan. Kelebihan dari metode demonstrasi itu sendiri adalah memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai materi yang dipelajari, perhatian siswa juga akan lebih mudah untuk dipusatkan pada hal-hal yang sedang dibahas, dapat mengurangi kesalahan, baik pada guru maupun pada siswa, serta dapat memberikan kesempatan yang lebih luas kepada siswa dan guru untuk berdiskusi apa yang telah didemonstrasikan. Mengingat uraian di atas, maka pemilihan alat peraga maupun metode pembelajaran harus sesuai dengan materi yang diajarkan. Tanpa ada penjelasan guru melalui gambar atau dalam bentuk media dan alat, murid akan kesulitan dalam memahami penjelasan guru. Akibatnya presentasi atau ceramah yang dilakukan oleh guru akan membosankan sehingga murid kurang memahami materi pelajaran.
            Penggunaan metode demonstrasi bertujuan agar siswa mampu memahami tentang cara mengatur atau menyusun sesuatu. Penggunaan metode demontrasi menunjang proses interaksi belajar mengajar di dalam kelas karena dapat memusatkan perhatian siswa pada pelajaran, meningkatkan partisipasi aktif siswa untuk mengembangkan kecakapan siswa dan memotivasi untuk belajar giat.
Dengan kata lain, penggunaan metode demonstrasi bertujuan untuk mewujudkan aktivitas siswa dalam proses pembelajaran, menghindari kesalahan dalam memahami materi yang diajarkan dan dapat memotivasi siswa dalam kegiatan pembelajaran, serta dapat melatih kecakapan siswa dalam menganalisa sesuatu yang sedang dialami atau didemonstrasikan.

B. Metode Eksperimen
Eksperimen dapat didefinisikan sebagai kegiatan terinci yang direncanakan untuk menghasilkan data untuk menjawab suatu masalah atau menguji sesuatu hipotesis. Suatu eksperimen akan berhasil jika variabel yang dimanipulasi dan jenis respon yang diharafkan  dinyatakan secara jelas dalam suatu hipotesis, juga kondisi-kondisi yang akan dikontrol sudah tepat. Untuk keberhasilan ini, maka setiap eksperimen harus dirancang dulu kemudian di uji coba.
Menurut Sagala (Astutik, 2012: 148) menyatakan bahwa eksperimen adalah percobaan untuk mengamati suatu objek, menganalisis data, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri tentang suatu objek dan membuktrikan suatu pertanyaan atau hipotesis tertentu. Sedangkan metode eksperimen dalam pembelajaran adalah cara penyajian bahan pelajaran yang memungkinkan siswa melakukan percobaan untuk membuktikan sendiri suatu pertanyaan atau hipotesis yang dipelajari.
Metode eksperimen adalah metode yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih melakukan proses secara mandiri, sehingga siswa sepenuhnya terlibat untuk menemukan fakta, mengumpulkan data, mengendalikan variable, merencanakan eksperimen dan memecahkan masalah yang dihadapi secara nyata. Melalui eksperimen, siswa tidak menerima begitu saja sejumlah informasi yang diperolehnya tetapi akan berusaha untuk mengelolah perolehannya dengan membandingkan tahap fakta yang diperolehnya dalam eksperimen yang dilakukan. Metode eksperimen dapat dikembangkan keterampilan-keterampilan seperti: keterampilan mengamati, menghitung, mengukur, membuat pola, membuat hipotesis, merencanakan eksperimen, mengendalikan variable, menginterpretasi data, membuat kesimpulan sementara, meramal, menerapkan, mengkomunikasikan, dan mengajukan pertanyaan (Mubarak, 2012: 3).
Menurut Djamarah (Widarmika, 2012: 1) metode eksperimen adalah cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan percobaan dengan mengalami sendiri sesuatu yang dipelajari. Dalam proses belajar mengajar, dengan metode eksperimen, siswa diberi kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu obyek, keadaan atau proses sesuatu. Dengan demikian, siswa dituntut untuk mengalami sendiri , mencari kebenaran, atau mencoba mencari suatu hukum atau dalil, dan menarik kesimpulan dari proses yang dialaminya itu.
Menurut Sulamah (Mubarak 2012:4) proses pembelajaran IPA dengan menggunakan metode eksperimen dapat meningkatkan ketrampilan proses. Juga meningkatkan prestasi belajar siswa. Berdasarkan uraian di atas disimpulkan bahwa, Ilmu Pengetahuan Alam dapat berkembang pesat berkat metode ilmiah. Proses pembelajaran IPA menurut keterlibatan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran. Dengan metode eksperimen dalam proses pembelajaran dapat melatih siswa mengembangkan ketrampilan intelektualnya. Diharapkan metode eksperimen dalam proses pembelajaran IPA akan dapat meningkatkan presentasi belajar dan semangat belajar secara aktif pada siswa. Metode eksperimen adalah suatu metode pembelajaran yang memberi peluang kepada guru dan siswa untuk melakukan percobaan terhadap sesuatu serta mengamati proses dan hasil percobaan itu.
Terdapat beberapa karakteristik mengajar dalam menggunakan metode ekperimen serta hubungannya dengan pengalaman belajar siswa, seperti yang dikemukakan oleh Winataputra (Widarmika, 2012: 2), yaitu:
1.      Ada alat bantu yang digunakan
2.      Siswa aktif melakukan percobaan
3.      Guru membimbing
4.      Tempat dikondisikan
5.      Ada pedoman untuk siswa
6.      Ada topik yang dieksperimenkan
7.      Ada temuan-temuan.
Pengalaman belajar siswa dari penggunaan metode eksperimen :
1.      Mengamati sesuatu hal
2.      Menguji hipotesis
3.      Menemukan hasip percobaan
4.      Membuat kesimpulan
5.      Membangkitkan rasa ingin tahu siswa, dan
6.      Menerapkan konsep informasi dari eksperimen
Pembelajaran melalui eksperimen siswa menjadi lebih aktif, guru berusaha membimbing, melatih dan membiasakan siswa untuk terampil menggunakan alat, terampil merangkai percobaan dan mengambil kesimpulan yang merupakan tujuan pembelajaran IPA dalam melakukan metode ilmiah dan sikap ilmiah siswa. Dengan percobaan (eksperimen) melatih siswa untuk merekam semua data fakta yang diperoleh melalui hasil pengamatan dan bukan data opini hasil rekayasa pemikiran. Eksperimen membelajarkan siswa terlibat secara aktif sebagai  upaya meningkatkan sikap ilmiah siswa. Dalam penemuan fakta dan data metode observasi dari sebuah eksperimen  mempunyai  peranan  yang sangat penting bagi peningkatan sikap ilmiah yang diharapkan.Berdasarkan karakteristiknya, metode eksperimen paling cocok diterapkan bagi siswa SD pada pembelajaran IPA dalam meningkatkan sikap ilmiah.
Menurut Rusyan (Widarmika, 2012: 4) metode eksperimen memiliki kelebihan dan kekurangan antara  lain sebagai berikut:
1.      Melatih disiplin diri siswa  melalui eksperimen yang dilakukannya terutama kaitannya dengan keterlibatan, ketelitian, ketekunan dalam melakukan eksperimen.
2.      Kesimpulan eksperimen lebih lama tersimpan dalam ingatan siswa melalui eksperimen yang dilakukannya sendiri secara langsung.
3.      Siswa akan lebih memahami hakikat dari ilmu pengetahuan dan hakikat kebenaran secara langsung.
4.      Mengembangkan sikap terbuka bagi siswa.
5.      Metode ini melibatkan aktifitas dan kreatifitas siswasecara langsung dalam pengajaran sehingga mereka akan terhindar dari verbalisme.
Adapun kelemahan metode eksperimen antara lain:
1.      Metode ini memakan waktu yang banyak, jika diterapkan dalam rangka pelajaran di sekolah, ia dapat menyerap waktu pelajaran.
2.      Kebanyakan metode ini cocok untuk sains dan teknologi, kurang tepat jika diterapkan pada pelajaran lain terutama bidang ilmu pengetahuan sosial.
3.      Pada hal-hal tertentu seperti pada eksperimen bahan-bahan kimia, kemungkinan memiliki bahaya selalu ada. Dalam hal ini faktor keselamatan kerja harus diperhitungkan.
4.      Metode ini memerlukan alat dan fasilitas yang lengkap jika kurang salah satu padanya, eksperimen akan gagal.
Untuk terlaksananya dengan baik kita harus tahu langkah-langkah yang harus ditempuh dalam mengimplementasikan metode eksperimen agar dapat berjalan dengan lancar dan berhasil. Langkah-langkah eksperimen yang dikemukakan Ramyulis (Widarmika, 2012: 5) sebagai berikut:
1.      Memberi penjelasan secukupnya tentang apa yang harus dilakukan dalam eksperimen
2.      Menentukan langkah-langkah pokok dalam membantu siswa dengan eksperimen
3.      Sebelum eksperimen di laksanakan terlebih dahulu guru harus menetapkan:
a.       Alat-alat apa yang diperlukan
b.      Langkah-langkah apa yang harus ditempuh
c.       Hal-hal apa yang harus dicatat
d.      Variabel-variabel mana yang harus dikontrol
4.      Setelah eksperimen guru harus menentukan apakah follow-up (tindak lanjut) eksperimen contohnya :
a.       Mengumpulkan laporan mengenai eksperimen tersebut
b.      Mengadakan tanya jawab tentang proses
c.       Melaksanakan teks untuk menguji pengertian siswa

Pengertian hasil belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar



Hasil Belajar

1.   Pengertian hasil belajar
Hasil belajar adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar. Belajar itu sendiri merupakan proses dari seseorang berusaha untuk memperoleh suatu bentuk perubahan perilaku yang relative menetap. Dalam kegiatan belajar yang terprogram dan control yang disebut kegiatan pembelajaran atau kegiatan instruksional, tujuan belajar telah ditetapkan lebih dahulu oleh guru. Anak yang berhasil dalam belajar ialah yang berhasil mencapai tujuan-tujuan pembelajaran atau tujuan-tujuan instruksional.
Menurut Benjamin (Mulyono, 2003: 38 ), ada tiga rana hasil belajar yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Romiszowski, hasil belajar merupakan keluaran dari suatu system pemrosesan masukan. Masukan dari system tersebut berupa bermacam-macam informasi sedangkan keluarannya adalah pembuatan atau kinerja. Menurut Keller, hasil belajar adalah prestasi actual yang ditampilkan oleh anak sedangkan usaha adalah perbuatan yang terarah pada penyelesaian tugas-tugas belajar. Ini berarti bahwa besarnya usaha adalah indicator dari adanya motivasi sedangkan hasil belajar dipengaruhi oleh besarnya usaha yang dilakukan oleh anak.
Menurut susanto (2013: 5), hasil belajar adalah perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri siswa baik yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor sebagai hasil dari kegiatan belajar. Pengertian hasil belajar juga dipertegas menurut Nanawi (2007: 39), hasil belajar diartikan sebagai tingkat keberhasilan siswa dalam mempelajari materi pembelajaran di sekolah yang di nyatakan dalam skor yang diperoleh dari hasil tes mengenal sejumlah materi pembelajaran tertentu.
Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah belajar.  Hasil belajar merupakan kemampuan aktual yang dapat diatur dari penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sebagai usaha individu mengenai apa yang dipelajarinya. Menurut Bundu (2006:12) menyebutkan bahwa hasil belajar adalah segenap perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa sebagai hasil mengikuti proses pembelajaran dan hasil belajar dinyatakan dengan skor yang diperoleh dari tes hasil belajar dan pengamatan kegiatan siswa.

Hasil belajar merupakan suatu puncak proses belajar Menurut Nana Sudjana (dalam kunandar 2011 : 276) hasil belajar adalah suatu akibat dari proses belajar dengan menggunakan alat pengukuran, yaitu berupa tes yang disusun secara terencana, baik tes tertulis, tes lisan maupun tes perbuatan. Sedangkan S Nasution berpendapat bahwa hasil belajar adalah suatu perubahan pada individu yang belajar, tidak hanya mengenai pengetahuan, tetapi juga membentuk kecakapan dan penghayatan dalam diri pribadi individu yang belajar. Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengikuti suatu materi tertentu dari mata pelajaran yang berupa data kuantitatif  maupun kualitatif untuk melihat hasil belajar dilakukan suatu penilaian terhadap siswa yang bertujuan untuk mengetahui apakah siswa telah menguasai suatu materi atau belum. Penilaian merupakan upaya sistematis yang dikembangkan oleh suatu intitusi pendidikan yang ditujukan untuk menjamin tercapainya kualitas proses pendidikan serta kualitas kemampuan peserta didik sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Hasil belajar dapat dilihat dari hasil nilai ulangan harian (formatif), nilai ulangan tengah semester (subsumatif) dan nilai ulangan semester (sumatif).
Bloom menyatakan bahwa, tujuan belajar siswa diarahkan untuk mencapai ke-3 ranah (domain) ketiga ranah tersebut adalah ranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Dalam ranah kognitif, hasil belajar tersusun dalam 6 tingkatan, enam tingkatan tersebut adalah :
1.    Pengetauan / ingatan (mengingat, menghafal).
2.    Pemahaman (menginterprestasikan).
3.    Penerapan / aplikasi ( menggunakan konsep untuk memecahkan masalah).
4.    Sintesis (menggabungkan bagian – bagian konsep menjadi suatu konsep utuh).
5.    Analisis (menggambarkan suatu konsep).
6.    Evaluasi (membandingkan nilai – nilai, ide – ide, metode dan sebagainya).

Ada pun ranah afektif terdiri dari 5 tingkatan yakni :
1.    Pengenalan (ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu).
2.    Merespons (aktif berpartisipasi).
3.    Penghargaan (menerima nilai – nilai, setia pada nilai – nilai tertentu).
4.    Pengorganisasian (menghubung – hubungkan nilai – nilai yang dipercayai).
5.    Pengalaman (menjadikan nilai – nilai sebagai bagian daru pada hidup).

Sedangkan ranah psikomotor terdiri dari 5 tingkatan yakni :
1.    Peniruan (menirukan gerak).
2.    Ragaan (menggunakan konsep untuk melakukan gerak).
3.    Ketepatan (melakukan gerak dengan benar).
4.    Perangkaian (melakukan beberapa gerakan sekaligus).
5.    Naturalisasi (melakukan gerak secara wajar)

2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar
Menurut Wasliman (2007: 158), hasil belajar dicapai oleh peserta didik merupakan hasil interaksi anatara berbagai factor yang mempengaruhi baik factor internal maupun eksternal. Secara rinci uraian mengenai factor internal dan factor eksternal, sebagai berikut.
1.    Factor internal, merupakan factor yang bersumber dari dalam diri peserta didik, yang mempengaruhi kempuan belajaranya. Meliputi: kecerdasan, minat dan perhatian, motivasi belajar, ketekunan, sikap, kebiasaan belajar, serta kondisi fisik dan kesehatan
2.    Factor eksternal, merupakan factor yang berasal dari luas diri peserta didik yang mempengaruhi hasil belajar yaitu keluarga, sekolah, dan masyarakat. Keadaan keluarga berpengaru terhadap hasil belajar siswa. Meliputi: pertengkaran orang tua, kurangnya perhatian orang tua, keadaan ekonomi dll.