Selasa, 29 Maret 2016

Pembelajaran Kooperatif Tipe two stay two stray



A.    Model Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray
1.      Pengertian Pembelajaran Kooperatif tipe Two Stay Two Stray
Menurut Lie (Suryani dkk, 2012: 80) pembelajaran kooperatif adalah pendekatan yang berfokus pada penggunaan kelompok-kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan. Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan.
Pembelajaran Kooperatif muncul dari konsep bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep yang sulit jika mereka saling berdiskusi dengan temannya. Siswa secara rutin bekerja dalam kelompok untuk saling membantu memecahkan masalah-masalah yang kompleks (Trianto, 2009: 56).
Pembelajaran kooperati adalah suatu system yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen itu adalah : 1) saling ketergantungan positi, 2) interaksi tatap muka, 3) akuntabilitas individu, 4) keterampilan untuk menjalin hubungan antar pribadi atau keterampilan sosial yang secara sengaja diajarkan Sugiyanto (Suryani dkk, 2012: 81).
Menurut Suryani (2012: 80) dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang mendorong siswa merasa saling membutuhkan. Pembelajaran kooperatif mencciptakan interaksi yang asah, asih dan asuh sehingga tercipta masyarakat belajar.
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah model two stay two stray. “Dua tamu dua tinggal”. Struktur two stay two stray yaitu salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan hasil dan informasi kepada kelompok lain. Hal ini dilakukan karena banyak kegiatan belajar mengajar yang diwarnai dengan kegiatan-kegiatan individu. Siswa bekerja sendiri dan tidak diperbolehkan melihat pekerjaan siswa yang lain. Padahal dalam kenyataan hidup di luar sekolah, kehidupan dan kerja manusia saling bergantung satu sama lainnya.
2.      Tujuan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Dalam model pembelajaran ini siswa dihadapkan pada kegiatan mendengarkan apa yang diutarakan oleh temannya ketika sedang bertamu. Dalam model pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray ini memiliki tujuan yang sama dengan pendekatan pembelajaran kooperatif yang telah di bahas sebelumnya. Siswa di ajak untuk bergotong royong dalam menemukan suatu konsep. Penggunaan model pembelajaran kooperatif two stay two stray akan mengarahkan siswa untuk aktif, baik dalam berdiskusi, tanya jawab, mencari jawaban, menjelaskan dan juga menyimak materi yang dijelaskan oleh teman. Selain itu, alasan menggunakan model pembelajaran two stay two stray ini karena terdapat pembagian kerja kelompok yang jelas tiap anggota kelompok, siswa dapat bekerjasama dengan temannya, dapat mengatasi kondisi siswa yang ramai dan sulit diatur saat proses belajar mengajar.
Ketika siswa menjelaskan materi yang dibahas oleh kelompoknya, maka tentu siswa yang berkunjung tersebut melakukan kegiatan menyimak atas apa yang di jelaskan oleh temannya. Demikian juga ketika siswa kembali ke kelompoknya untuk menjelaskan materi apa yang di dapat dari kelompok yang dikunjungi. Siswa yang kembali tersebut menjelaskan materi yang di dapat dari kelompok lain, siswa yang bertugas menjaga rumah menyimak hal yang dijelaskan oleh temannya.
Sedangkan tanya jawab dapat dilakukan oleh siswa dari kelompok satu dan yang lain, dengan cara mencocokan materi yang didapat dengan materi yang disampaikan. Dengan begitu, siswa dapat mengevaluasi sendiri, seberapa tepatkah pola pikirnya terhadap suatu konsep dengan pola pikir nara sumber. Kemudian bagi guru atau peneliti, menjadi acuan evaluasi berapa persenkah keberhasilan penggunaan model pemelajaran kooperatif two stay two stray.
3.      Langkah-langkah Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Adapun langkah-langkah model pembelajaran two stay two stray  Lie (Suryani, 2002: 60-61) adalah sebagai berikut.
a.       Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa.
b.      Setelah selesai, dua siswa dari masing-masing kelompok akan meninggalkan kelompoknya dan masing-masing bertamu ke kelompok yang lain.
c.        Dua siswa yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka.
d.      Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka sendiri dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain.
e.       Kelompok mencocokkan dan membahas hasil-hasil kerja mereka.
4.      Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran Two Stay Two Stray
Adapun kelebihan dan kelemahan dari model pembelajaran two stay two stray adalah sebagai berikut.
1.      Kelebihan model pembelajaran two stay two stray
a.       Dapat diterapkan pada semua kelas atau tingkatan.
b.      Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna.
c.       Lebih berorientasi pada keaktifan.
d.      Diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya.
e.       Menambahkan kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
f.       Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
g.      Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar siswa.
2.      Kelemahan model pembelajaran two stay two stray
a.       Membutuhkan waktu yang lama.
b.      Siswa cenderung tidak mau
c.       Dapat diterapkan pada semua kelas/tingkatan
d.       Kecenderungan belajar siswa menjadi lebih bermakna
e.        Lebih berorientasi pada keaktifan.
f.       Diharapkan siswa akan berani mengungkapkan pendapatnya
g.      Menambah kekompakan dan rasa percaya diri siswa.
h.       Kemampuan berbicara siswa dapat ditingkatkan.
i.        Membantu meningkatkan minat dan prestasi belajar
Untuk mengatasi kekurangan pembelajaran kooperatif tipe two stay two stray, maka sebelum pembelajaran guru terlebih dahulu mempersiapkan dan membentuk kelompok-kelompok belajar yang heterogen ditinjau dari segi jenis kelamin dan kemampuan akademis. Berdasarkan sisi jenis kelamin, dalam satu kelompk harus ada siswa laki-laki dan perempuannya. Jika berdasarkan kemampuan akademis maka dalam satu kelompok terdiri dari satu orang berkemampuan akademis tinggi, dua orang dengan kemampuan sedang dan satu lainnya dari kelompok kemampuan akademis kurang. Pembentukan kelompok heterogen memberikan kesempatan untuk saling mengajar dan saling mendukung sehingga memudahkan pengelolaan kelas karena dengan adanya satu orang yang berkemampuan akademis tinggi yang diharapkan bisa membantu anggota kelompok yang lain.