Rabu, 01 April 2015

makalah hakekat belajar



BAB I
PENDAHULUAN


1.1      LATAR BELAKANG
Manusia merupakan makhluk penjelajah. Sejak bayi dan balita manusia melakukan penjelajah dalam ruang. Dengan kemajuan dan pemanfaatan IPTEK kita tidak lagi menempu jarak yang fisikal melainkan multimedia. Disadari atau tidak manusia memperolah pengalaman dan pengetahuan lebih banyak dikatakan bahwa penjelajah yang dimaksudkan adalah kegiatan yang terkait dengan proses belajar.

1.2      RUMUSAN MASALAH
1.     Apakah  hakikat belajar ?
2.    Apakah belajar merupakan modal dasar pemberdayaan diri?
3.    Apakah bermain sebagai proses kegiatan belajar?

1.3      TUJUAN
Tujuan dari penulisan ini yaitu untuk mengetahui meteri manusia makhluk pembelajar dan untuk mengeberitahukan kepada pembaca bagaimana menjadi makhluk pembelajar serta memenuhi salah satu tugas yang diberikan.







BAB II
PEMBAHASAN


2.1 Hakikat Belajar
Bagi makhluk hidup, belajar merupakan proses kegiatan yang sangat bermakna. Belajar tersebut tidak hanya dialami oleh manusia melainkan hewan juga mengalaminya. Namun demikian belajar pada hewan sangat dipengaruhi oleh naluri yang melekat pada mereka, sedangkan pada diri manusia pengaruh tadi direduksi oleh akal pikiran yang berkembang dan dapat dikembangkan. Makna belajar pada diri manusia sangat luas sesuai dengan situasi,kondisi, tentangan dan masalah yang dihadapi.melalui belajar manusia mengalami kematangan.
Suatu proses belajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Berhasil tidaknya proses belajar mengajar tergantung dari faktor-faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar siswa.Faktor dan kondisi yang mempengaruhi proses belajar sesungguhnya banyaksekali macamnya, baik yang ada pada diri siswa sebagai pelajar, pada gurusebagai pengajar, metode mengajar, bahan materi pelajaran harus diterima siswa, maupun saranan prasarana.
2.2 Belajar merupakan Modal Dasar Pemberdayaan Diri
Berdasarkan pandangan proses belajar, proses kematangan tidak akan terjadi tanpa proses belajar. Oleh karena itu pada akan menelaah belajar sebagai modal dasar sebagai kematangan. Hal tersebut tentu saja sangat erat kaitannya dengan kajian-kajian psikologi perkembangan.
Dalam buku 7 kebiasaan manusia yang sangat efektif , manusia berkembang dari tahap ketergantungan ke tahap kemandirian sampai mencapai tahap saling ketergantungan. Sejak lahir seorang individu mulai melakukan kegiatan belajar, prosesnya lebih bersifat spontan,belajar melihat,mengeluarkan suara dan sebagainya.belajar sebagai suatu proses bagi individu tadi sangat bermakna untuk bereaksi terhadap lingkungannya. Setelah lepas dari masa bayi, maka memasuki masa batita,dan kemudian mengalami masa balita.secara berkesinambungan dan bertahap belajar yang dilakukan individumakin meningkat.
Melalui pembiasaan,keteladanan sifat serta kegiatan yang mendasar yang melekat pada individu belajar pembelajaran yang berkesinambungan.menjadi bagian dari kepribadian individu tersebut.selanjutnya dalam proses pembelajaran orang tua, guru pada umumnya harus memperhatikan potensi dasar. Potensi dasar yang melekat pada diri anak meliputi minat dan perhatian, dorongan ingin tahu, dorongan ingin tahu yang sebenarnya, dorongaan ingin menemukan sendiri sendiri,dorongan bertualang,dorongan menghadapi tantangan,dari dorongan semua jiwa tersebut bermuara pada dorongan untuk menyelediki,meneliti serta mengkaji.
Berkaitan dengan pembawaan dasar ada yang jenius dan keterbelakangan mental yang secara khusus harus mendapat perhatian dalam pembelajaran. Bagi anak yang jenius terjadi loncatan yang harus diperhatikan dan dilayani sehingga tidak menghambat perkembanganya.
Prisip belajar meliputi tahap-tahap sebagai berikut :
Ø  Dari yang diketahui ke yang belum diketahui
Ø  Dari yang mudah ke yang sukar
Ø  Dari yang dekat ke yang lebih jauh
Ø  Dari yang sederhana ke yang lebih kompleks
Ø  Dari yang sempit ke yang lebar
Ø  Dari yang kecil ke yang besar dll
Secara umum dan normal, prinsip ini menjadi pegangan penididk dalam proses pembelajaran. Namun demikian bagi peserta didik yang tidak normal. Melalui penerapan prisip tersebut diperlakukan sebagai potensi apa adanya , sehingga mereka menjadi senang belajar sesuai dengan kemampuannya. Melalui pendekatan,perencanaan, metode dan strategi yang terarah potensi mereka ditingkatkan sampai batas optimal. Dengan upaya yang demikian itu, belajar sebagai suatu proses sebagai dasar pemberdayaan tiap individu.

2.3 Bermain Sebagai Proses Kegiatan Belajar
Berdasarkan pengalaman dan pengamatan, persepsi orang tua terhadap makna bermain bagi kepentingan perkembangan anak., tidak sesuai dengan tuntutan wajar yang harus dipenuhi. Tidak jarang orang tua yang menganggap bahwa bermain itu hanyalah membuang waktu tidak ada nilainya. Padahal bila dikaji dari kepentingan anak yang sedang mengembangkan potensi dasarnya., bermain tersebut merupakan pengalaman dan proses kegiatan belajar yang mampu membawah mereka kearah kematangan. Individu dalam rentang usia tertentu sebagian waktunya dimanfaatkan untuk bermain, grafiknya makin mendekati usia lanjut,proses kegiatan tersebut menjadi berkurang.
Mengenai bermain ini, terutam bagi individu yang berusia muda harus dipahami oleh orang tua. Sebagai suatu momen yang harus dipahami oleh mereka dalam kegiatan belajar untuk memperoleh pengalaman hidup yang berharga pada pembentukan kepribadi. Seto mulyani mengemukakan bahwa kegiatan apa pun apabila menimbulkan suasana yang menyenangkan dan disukai oleh anak disebut kegiatan bermain. Kunci utama yang mencirikan suatu kegiatan bermain bagi si anak, yaitu adanya kesengan dan disukai oleh yang bersangkutan. Menurut miller , setiap anak memiliki insting untuk bermain yaitu kebutuhan untuk beraktivitas dalam pola tertentu yang sangat membantu proses pertumbuhan dan perkembangannya. Dengan demikian dalam kegiatan yang disebut bermain tedapat unsure-unsur kesenagan dan disukai , pemenuhan kebutuhan naluriah yang berkaitan dengan pengembangan potensi anak yang bersangkutan. Dalam suasana bermain si anak memperolah pengalaman baik yang telah berulang-ulang atau yang baru, yang akan menambah, memperkaya, dan mengembangkan pengetahuan sebagai hasil belajarnya. Tindakan yang salah dengan memarahi sampai menghukum si anak dengan alasan yang tertentu dapat menyebebkan jiwanya tertekan,sehingga membunuh kreativitas, keberanian, dan daya fantasi .
Selanjutnya individu balita bermain dengan teman-temannya sebaya dapat belajar mengenal diri sendiri, dia dapat mengetahui apakah dirinya itu baik atu buruk, jujur atau tidak, ramah atau kasar dll. Dalam buku “the look-glass self” , seorang anak terutama balita yang hanya dikurung dalam apalagi dalam suasana yang manja, tidak akan mengenal diri sendiri. Oleh karena itu orang tua harus memberikan keluasan dan mendorong anaknya untuk bergaul dengan teman-teman sebaya sehingga mampu belajar dari lingkungan social untuk mengenal dirinya. Taman kanak-kanak merupakan salah satu wadah bagi anak untuk belajar mengenal diri sendiri.
Dalam suasana bermain anak-anak berlari, saling mengejar, naik pohon, meloncat pagar dll,merupakan kesempatan bagi si anak untuk belajar dan melayani perkembangan potensi dirinya.
Berdasarkan begitu bernilainya bermain sebagai proses kegiatan belajar dalam proses menuju kematangan, Chatrine Garvey mengetengahkan 5 karakteristik bermain senagai berikut :
1.     Bermain merupakan sesuatu yang menyenangkan dan memiliki nilai positif bagi anak melakukan kegiatan yang mengasikan tersendiri dan menyenangkan.
2.    Bermain didasari motibasi yang muncul dari dalam, si anak melakukan kegiatan tersebut atas kemauannya sendiri, tanpa perintah dan iming-iming dari pihak lain.
3.    Bermain sifatnya spontan dan sukarela bukan merupakan suatu kewajiban, si anak merasa memilih alternative bagi kegiatan bermainnya.
4.    Bermain selalu melibatkan peran aktif si anak, ank benar aktif dalam kegiatan tersebut baik secara fisik maupun mental.
5.    Bermain memiliki hubungan sistematis yang khusus dengan sesuatu yang bukan bermain, seperti kreativitas, memecahkan masalah, berbahasa, berteman secara luas dll.
Dengan demikian dari 5 karakter di atas dapat disimpulkan bahwa bermain merupakan kegiatan belajar dalam suasana yang menyenangkan, spontan,bermotivasi dari dalam dan mengembangkan potensi si anak. Salah satu hal yang perlu ditonjolkan dari bermain denga teman sebaya yaitu belajar bergaul. Dengan pergaulan tersebut berkembang kemampuan-kemapuan dasar kerjasama,membantu orang lain, setia kawan dll. Dalam suasana dan situasi seperti itu anak belajar bermasyarakat, mengembangkan kemampuan social dalam menyadari pentingnya orang lain.











BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Dapat disimpulkan bahwa belajar sebagai proses dan kegiatan merupakan modal dasar yang menunjukan bahwa manusia sebagai makhluk hidup ,memiliki sifat yang hakiki berbeda dengan makhluk hidup lainnya. Belajar menjadi modal dasar memberdayakan dalam memenuhi tuntutan menjadi manusia yang sesungguhnya. Dari masa ke masa atau sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri. Mulai dari masa balita dan batita, proses serta kegiatan belajar merupakan fungsi peletakan dasar perilaku individu yang menjadi bagian kepribadiannya pada masa yang akan datang. Dengan begitu bermain merupakan kegiatan yang menyenangkan dan membahagiakan bagi si anak dan sekaligus menjadi sarana belajar dalam suasana spontan, bebas serta berfungsi mengembangkan potensi dasar ke arah kematangan.

3.2      SARAN
Peranan dan fungsi orang tua sangat berperan penting dalam mengawasi, menjaga dan menumbuhkembangkan potensi dan perkembangan kejiwaan anak, dimana hal ini sangat berharga bagi si anak sebagai pribadi yang sedang dalam proses menuju kematangan.

sekolah dan dunia kerja



A.     Pendidikan Mengakibatkan Perbedaan Status

Menurut Roucek weren dalam Ary H. gunawan,(2000:40) bahwa status sebagai berikut : 1) status adalah posisi seseorang dalam suatu kelompok sosial. 2) status ialah posisi seseorang dalam masyarakat.
Menurut Karsidi (2007:185) mdisebutkan bahwa “makin tinggi sekolahnya makin tinggi tingkat penguasaan ilmunya sehingga dipandang memiliki status yang tinggi di masyarakat”. Dijelaskan bahwa pendidikan merupakan anak tangga mobilitas yang penting.
Untuk memperoleh status sosial menurut Ralph Linton dalam Gunawan (2000:42) ada 2 macam yaitu :
Ø  Ascribed Status, ialah status yang diperoleh dengan sendirinya oleh seorang anggota masyarakat. Misalnya dalam sistem kasta seorang anak raja langsung menjadi bangsawan.
Ø  Achieved status, ialah kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha yang disengaja. Misalnya sarjana untuk lulusan S1, magister untuk lulusa S2 dan doktor untuk lulusan S3.
lebih lanjut menurut mayor polak dalam gunawan (2000:42) menambahkan Assigned status  yaitu status diberikan kepada seseorang karena jasanya. Misalnya seseorang yang berjasa karena dapat menghalau dan mengamankan negeri dari kejahatan yang mengancam kesejahteraan negara.
Pada prisipnya pendidikan merupakan sarana untuk meningkatkan status seseorang. Memperhatikan salah satu fungsi pendidikan adalah proses seleksi terjadi di segala bidang kehidupan baik di sekolah maupun di tempat-tempat lain.
Sekolah sebagai lembaga yang berfungsi melatih dan mengembangkan tenaga kerja.sekolah mengajarkan bagaimana bertanggung jawab terhadap tugas,disiplin sesuai aturan-aturan yang telah ditetapkan.menurut Syuhada (1988:126-131). Kebutuhan masyarakat akan pendidikan sangat penting sehingga dalam mengembangkan pendidikan perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1.     Relevansi pendidikan dengan kebutuhan masyarakat
2.    Panduan pendidikan dan latihan
            Berkaitan dengan lapangan pekerjaan perlu adanya upaya antara lain :
ü  Informasi lapangan kerja
ü  Layanan kesehatan mental masyarakat

B.     Peningkatan taraf hidup melalui pendidikan

Pendidikan dapat dipergunakan untuk membantu penduduk dalam meningkatkan taraf hidupnya ke tingkat yang lebih tinggi melalui usaha mereka sendiri.
Keterkaitan antara tingkat pendidikan dengan tingkat ekonomi atau hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat sosial ekonomi seseorang digambarkan oleh Clark (1944) dalam Karsidi (2007:186) sebagai berikut :
1)    Makin tinggi tingkat seseorang, makin tinggi penghasilannya
2)   Tamatan sekolah Dasar/smp akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 25-34 tahun, tamatan sekolah menengah atas akan mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 35-44 tahun, dan tamatan perguruan tinggi mendapat penghasilan maksimal pada usia sekitar 45-54 tahun.
3)   Tamatan sekolah dasar dan sekolah menengah pertama pada usia tua mendapatkan hasil rendah dari hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan sekolah menengah atas pada usia tua mendapat hasil yang seimbang dengan hasil ketika mereka mulai bekerja. Tamatan perguruan tinggi pada usia tua mendapat hasil yang lebih besar ketika mereka mulai bekerja.




C.     Dimensi psikologis orang bekerja 

Pada zaman sekarang ini dimana tingkat teknologi lebih berkembang sedemikian rupa dapat dikatakan bahwa bekerja adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup yang mendasar. Pendapat St Paul dalam Bahar yang berbunyi : anyone who would not work should not eat artinya orang-orang yang tidak mau bekerja jangan makan. Pendapat ini mengingatkan bahwa bekerja merupakan suatu kewajiban yang patut dilakukan oleh individu agar terpenuhi kebutuhan hidupnya.
Kebutuhan psikologi yang perlu dipenuhi oleh orang yang bekerja adalah KEPUASAN. Biasanya orang akan merasa puas atas kerja yang dijalankan apabila ada yang Ia kerjakan itu dianggapnya telah memenuhi harapannya atau sesuai dengan tujuan Ia bekerja. Kepuasan kerja merupakan suatu sikap yang positif yang menyangkut penyesuaian diri yang sehat dari para karyawan terhadap kondisi dan situasi kerja.
Berkaitan dengan prisip orang bekerja menurut Bahar (1989:50) orang Arab mengungkapkan : bekerjalah engkau sedemikian rupa seolah-olah engkau akan hidup selamanya dan beramalah (beribadahlah) khusuknya seolah-olah engkau akan meninggal esok harinya. Sedangkan orang Amerika memiliki etik kerja : siapa yang selalu bekerja keras dan penuh dedikasi dia akan mencapai nasib baik dan keberuntungan.
Pendapat Miller dan Form dalam Anoraga (2001:14) bahwa : motivasi untuk bekerja tidak dapat dikaitkan hanya pada kebutuhan-kebutuhan ekonomis belaka, sebab orang tetap akan bekerja walaupun mereka sudah tidak membutuhkan hal-hal yang bersifat materiil. Jadi walaupun keadaan sosial ekonomis sudah mapan, tetap orang melakukan kegiatan kerja.
Pandangan mengenai kerja menurut Anoraga (2001:14-15) bahwa :
ü  Kerja merupakan bagian paling berdasar dari kehidupan
ü  Baik pria maupun wanita menyukai pekerjaan
ü  Moral dari pekerja
ü  Inisiatif kerja tidak selalu tergantung pada uang

D.    Sekolah dan hasil yang dicapai di Indonesia

Tujuan didirikannya menurut Fajar dalam H.R Syaukani (2002:80) minimal untuk memenuhi 3 hal yaitu : pertama , sebagai sarana implementasi kebijakan pendidikan yang dikembangkan melalui sistem yang berlaku secara nasional, kedua , memenuhi dan mewujudkan pendidikan nasional yang mampu secara akademik, dan ketiga, untuk mengembangkan visi dan misimenuju kehidupan modern.
Banyak orang melihat pendidikan itu sebagai investasi jangka panjang, bertambah orang bersekolah bertambah banyak ia menanamkan modal. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan tingkat pendidikan dan golongan pegawai yang baru diangkat mereka yang berijasah :
·         Sekolah Dasar           diangat pada golongan         I a
·         SMP                            diangkat pada golongan       I b
·         SMA                            diangkat pada golongan       II a
·         Sarjana Muda/DII   diangkat pada golongan       II b
·         D III                          diangkat pada golongan       II c
·         Sarjana (S1)              diangkat pada golongan       III a
·         Master (S2)               diangkat pada golongan       III b
·         Doktor                        diangkat pada golongan       III c

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Akuntansi Kompetensi Dasar Membuat Ikhtisar Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa Materi Jurnal Penyesuaian Dikelas XI IPS4 SMA Negeri 4 Ambon



BAB I
 PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan,  pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara (UU Sisdiknas, 2003 pasal 1). Inti dari pendidikan adalah proses pembelajaran, yaitu suatu  usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh  perubahan karakter yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman interaksi dengan lingkungannya. Proses pembelajaran  dipengaruhi oleh  sistem yang didalamnya terdapat sejumlah komponen. Komponen tersebut antara lain kurikulum, tenaga pengajar, perumusan tujuan, pemilihan dan penyusunan materi, penggunaan strategi pembelajaran yang efektif, penggunaan media yang tepat, dan pelaksanaan evaluasi yang benar.
Menurut Nurcholis Madjid (2011), yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan investasi terbaik bangsa ini ke depan, investasi itu baru dipetik hasilnya mungkin dua puluh lima tahun mendatang atau bahkan satu generasi upaya ini membutuhkan proses panjang, dan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh,konsisten, dan intensif, dan investasi tersebut harus di kembangkan karena tantangan globalisasi. Menurut Tilaar (2011) , globalisasi yang sedang dan akan di hadapi oleh masyarakat indonesia semakin intens, karena menuntut bagaimana mengelola sistem pendidikan nasional agar dapat dejalan dengan dinamika global yang sedang terjadi.sudah menjadi fakta bahwa negara yang besar adalah negara yang memiliki sumber daya manusia (SDM)yang berkualitas. Fakta ini mementahkan arah pembangunan suatu bangsa yang banyak menekankan pada perkembangan aumber daya alam (SDA). Jepang, korea, dan singapura merupakan contoh nyata negara yang tidak memilki sumber daya alam(SDA) yang melimpah tetapi menjadi negara maju karena memiliki sumber daya manusia(SDM) yang berkualitas, peningkatan layanan kualitas pendidikan merupakan satu-satunya langkah pengembangan sumber daya manusia(SDM).
Seiring kurikulum yang mengalami pergantian, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004 hingga Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006 kelas XI sudah dibagi Jurusan/Program studi yaitu IPA, IPS, dan IPB. Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Atas (SMA) akan dipelajari mata pelajaran jurusan tersebut antara lain ekonomi yang didalamnya terdapat akuntansi, geografi, sosiologi, dan sejarah disamping mata pelajaran umum lainnya.
Kedudukan akuntansi adalah merupakan bagian dari mata pelajaran ekonomi, khusus untuk kelas XI IPS ekonomi dipelajari pada semester satu sedangkan akuntansi pada semester dua. Berdasarkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) materi akuntansi untuk kelas XI adalah siklus akuntansi perusahaan jasa, dengan memiliki satu Standar Kompetensi yaitu memahami siklus akuntansi perusahaan jasa dan juga memiliki tujuh kompetensi dasar yaitu :            1.1 mendeskripsikan akuntansi sebagai sistem informasi, 1.2 menafsirkan persamaan akuntansi, 1.3 mencatat transaksi berdasarkan mekanisme debit dan kredit, 1.4 mencatat transaksi/dokumen kedalam jurnal umum, 1.5 melakukan posting dari jurnal ke buku besar, 1.6 membuat ikhtisar siklus akuntansi perusahaan jasa, dan 1.7  menyusun laporan keuangan perusahaan jasa.
SMA Negeri 4 Ambon adalah salah satu pendidikan formal yang terdiri dari kelas X,XI IPS,XI IPA,XII IPS,XII IPA, SMA Negeri 4 Ambon juga menggunakan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) seperti pada umumnya mata pelajaran akuntansi di SMA Negeri 4 ambon di dapat pada saat siswa menduduki kelas XI IPS semester II. Terdapat tiga jam pelajaran setiap proses tatap muka dengan nilai KKM mencapai 75, karena mata pelajaran akuntansi baru didapat pada saat siswa menduduki kelas XI IPS dan merupakan mata pelajaran baru dijenjang ini maka sering timbul permasalahan dalam pembelajaran di kelas. Sulitnya mata pelajaran akuntansi dapat terlihat dari rata-rata nilai yang di capai siswa yang masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal.

















Tabel 1.1  Daftar Nilai Ulangan Semester Kelas XI IPS4, Mei 2012 SMA Negeri 4 Ambon
NO
NAMA SISWA
NILAI
1
A.L.T
20
2
B.W.S
20
3
B.S
40
4
B.M
50
5
B.H.F.S
20
6
C.S
50
7
D.S
20
8
D.S
20
9
D.M
50
10
E.E.P
10
11
E.S
50
12
F.H
10
13
G.M
20
14
I.O.H
20
15
I.K.P
50
16
J.Y
20
17
J.T
60
18
J.M
10
19
J.H
60
20
K.K
40
21
L.P
75
22
M.T.S
50
23
M.L
20
24
M.S
35
25
N.M
75
26
P. H
45
27
R.M.M
40
28
R.F.N
20
29
R.T
45
30
R. H
30
31
S. D
50
32
S. M
50
33
S. N
10
34
S. M
55
35
Y. L
50
36
Y. T
15
                Sumber: Data Primer,  2012
Dari data Tabel di atas ternyata nilai siswa pada mata pelajaran ini khususnya materi jurnal penyesuaian yang hampir semua siswa hanya mendapat nilai di bawah 50 padahal sesuai dengan KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yang mencapai 75, nilai rata-rata yang di dapatkan yaitu 10,20,30,40,50,60 dan 2 orang siswa saja dari 36 orang siswa yang mendapat nilai mencapai nilai KKM yaitu 75.
Untuk mendukung perolehan data di atas penulis juga melakukan wawancara awal secara langsung dengan sebagian siswa yang mengatakan bahwa kegiatan belajar mengajar terbilang pasif sangat sedikit siswa yang aktif sehingga kurang terjadi komunikasi dua arah dengan guru dan siswa. Selain itu alasan ketidaktertarikan siswa pada mata pelajaran akuntansi adalah akuntansi merupakan salah satu pelajaran sulit karena membutuhkan ketelitian dan keterampilan, juga akuntansi banyak perhitungan seperti mata pelajaran matematika, Metode yang dipakai guru akuntansi juga masih menggunakan metode konvensional, juga prasarana yang kurang memadai. Apalagi untuk materi jurnal penyesuaian siswa juga belum paham mana akun-akun termasuk akun ril dan akun nominal serta tidak tahu akun-akun mana yang perlu disesuaikan pada akhir perode akuntansi.
Hasil belajar adalah tingkat pengetahuan yang dicapai oleh siswa terhadap materi yang diterima ketika mengikuti dan mengerjakan tugas dan kegiatan pembelajaran di sekolah.  Hasil belajar yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi melalui penilaian, dan hasil belajar dipengaruhi beberapa faktor antara lain faktor eksternal dan internal sebagaimana di kemukakan  ( Yatna Supriyana,2012) yaitu Faktor Eksternal meliputi Faktor yang berasal dari sekolah, dapat berasal dari guru, mata pelajaran yang ditempuh, dan metode yang diterapkan. Faktor guru banyak menjadi penyebab kegagalan belajar anak, yaitu yang menyangkut kepribadian guru, kemampuan mengajarnya. Terhadap mata pelajaran, karena kebanyakan anak memusatkan perhatianya kepada yang diminati saja, sehingga mengakibatkan nilai yang diperolehnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Keterampilan, kemampuan, dan kemauan belajar anak tidak dapat dilepaskan dari pengaruh atau campur tangan orang lain. Oleh karena itu menjadi tugas guru untuk membimbing anak dalam belajar, Anak tidak lepas dari kehidupan masyarakat. Faktor masyarakat bahkan sangat kuat pengaruhnya terhadap pendidikan anak. Pengaruh masyarakat bahkan sulit dikendalikan. Mendukung atau tidak mendukung perkembangan anak, masyarakat juga ikut mempengaruhi.
Sedangkan faktor internal meliputi faktor minat yaitu bila Seorang yang tidak berminat mempelajari sesuatu tidak akan berhasil dengan baik, tetapi kalau seseorang memiliki minat terhadap objek masalah maka dapat diharakan hasilnya baik. Masalahnya adalah bagainama seorang pendidik selektif dalam menentukan atau memilih masalah atau materi pelajaran yang menarik siswa. Berikutnya mengemas materi yang dipilih dengan metode yang menarik. Karena itu pendidik/ pengajar perlu mengenali karakteristik siswa, misalnya latar belakang sosial ekonomi, keyakinan, kemampuan, dan lain-lain, Keinginan seorang siswa perlu dibarengi dengan kemampuan atau kecakapan mencapainya. Kemampuan akan baru terrealisasi menjadi kecakapan yang nyata sesudah belajar atau berlatih. Hal ini besar pengaruhnya terhadap hasil belajar, jika bahan pelajaran yang dipelajari siswa sesuai dengan bakatnya maka hasil belajarnya akan baik karena ia senang belajar dan pastilah selanjutnya akan lebih giat belajar lagi.
Untuk dapat berhasil dalam belajar , memang bukanlah suatu hal yang mudah. selain dituntut untuk menguasai ilmu yang dipelajari untuk bekal hidup kelak, juga banyak problematika yang harus dihadapi, hal inilah yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar Akuntansi Kompetensi Dasar Membuat Ikhtisar Siklus Akuntansi Perusahaan Jasa Materi Jurnal Penyesuaian Dikelas XI IPS4 SMA Negeri 4 Ambon