Senin, 21 September 2015

Model Pembelajaran Kooperatif


Model Pembelajaran Kooperatif 


1.   Pengertian Model Penbelajaran
Model pembelajaran adalah suatu rangkaian antara pendekatan, strategi, metode, teknik dan bahkan taktik pembelajaran menjadi satu yang utuh (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990).
Gunter et al (1990: 67) mendefinisikan an instructional model is a step-by-step procedure that leads to specific learning outcomes. Joyce & Weil (1980) mendefinisikan model pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran. Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar. Jadi model pembelajaran cenderung preskriptif, yang relatif sulit dibedakan dengan strategi pembelajaran.
2.   Tujuan Model Pembelajaran
Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki lima unsur dasar Joyce & Weil (1980), yaitu:
a.    Syntax, yaitu langkah-langkah operasional pembelajaran.
b.    Social system, adalah suasana dan norma yang berlaku dalam pembelajaran.
c.    Principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa.
d.    Support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan belajar yang    mendukung pembelajaran.
e.    Instructional dan nurturant effects—hasil belajar yang diperoleh langsung berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil belajar di luar yang disasar (nurturant effects).

3.   Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha Weil ( Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990 ) mengetengahkan 4 (empat) kelompok model pembelajaran, yaitu: (1) model interaksi sosial; (2) model pengolahan informasi; (3) model personal-humanistik; dan (4) model modifikasi tingkah laku. Kendati demikian, seringkali penggunaan istilah model pembelajaran tersebut diidentikkan dengan strategi pembelajaran.
Model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual. Sistem pengajaran pembelajaran kooperatif dapat didefinisikan sebagai sistem kerja / belajar kelompok yang terstruktur. Yang termasuk di dalam struktur ini adalah lima unsur pokok ( Johnson & Johnson, 1993 ), yaitu saling ketergantungan positif, tanggung jawab individual, interaksi personal, keahlian bekerja sama, dan proses kelompok.
Model pembelajaran kooperatif adalah salah satu model pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai subjek pembelajaran ( student oriented ). Dengan suasana kelas yang demokratis, yang saling membelajarkan memberi kesempatan peluang lebih besar dalam memberdayakan potensi siswa secara maksimal.
Sistem pembelajaran koooperatif merupakan sistem pengajaran yang memberi kesempatan kepada anak didik untuk bekerja sama dengan sesama siswa dalam mengerjakan tugas-tugas terstruktur. Pembelajaran kooperatif dikenal dengan pembelajaran secara berkelompok. Tetapi belajar kooperatif lebih dari sekedar belajar kelompok atau kerja kelompok karena dalam belajar kooperatif ada struktur dorongan atau tugas yang bersifat kooperatif sehingga memungkinkan terjadinya interaksi secara terbuka dan hubungan yang bersifat interdepedensi efektif diantara anggota kelompok (Sugandi, 2002: 14). Hubungan kerja seperti itu memungkinkan timbulnya persepsi yang positif tentang apa yang dapat dilakukan siswa untuk mencapai keberhasilan belajar berdasarkan kemampuan dirinya secara individu dan andil dari anggota kelompok lain selama belajar bersama dalam  kelompok. Untuk mencapai hasil yang maksimal, maka harus diterapkan lima unsur model pembelajaran gotong royong, yaitu:
1)    Saling ketergantungan positif.
2)    Tanggung jawab perorangan.
3)    Tatap muka.
4)    Komunikasi antar anggota.
5)    Evaluasi proses kelompok.

4.   Prinsip Dasar dan Karakteristik Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Johnson & Johnson , prinsip dasar dalam model pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut:
a)    Setiap anggota kelompok (siswa) bertanggung jawab atas segala sesuatu yang dikerjakan dalam kelompoknya.
b)   Setiap anggota kelompok (siswa) harus mengetahui bahwa semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
c)    Setiap anggota kelompok (siswa) harus membagi tugas dan tanggung jawab yang sama di antara anggota kelompoknya.
d)    Setiap anggota kelompok (siswa) akan dikenai evaluasi.
e)    Setiap anggota kelompok (siswa) berbagi kepemimpinan dan membutuhkan keterampilan untuk belajar bersama selama proses belajarnya.
f)     Setiap anggota kelompok (siswa) akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Adapun karakteristik model pembelajaran kooperatif adalah:
- Siswa dalam kelompok secara kooperatif menyelesaikan materi belajar sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
- Kelompok dibentuk dari beberapa siswa yang memiliki kemampuan berbeda-beda, baik tingkat kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
- Penghargaan lebih menekankan pada kelompok daripada masing-masing individu.
Dalam pembelajaran kooperatif dikembangkan diskusi dan komunikasi dengan tujuan agar siswa saling berbagi kemampuan, saling belajar berpikir kritis, saling menyampaikan pendapat, saling memberi kesempatan menyalurkan kemampuan, saling membantu belajar, saling menilai kemampuan dan peranan diri sendiri maupun teman lain. Terdapat 6 (enam) langkah model pembelajaran kooperatif:
a.       Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa.
b.       Menyajikan informasi.
c.       Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d.       Membimbing kelompok belajar.
e.       Evaluasi dan pemberian umpan balik.
f.        Memberikan penghargaan.

5.    Keuntungan Pelaksanaan Model Pembelajaran Kooperatif
Model pembelajaran kooperatif akan dapat memberikan nuansa baru di dalam pelaksanaan pembelajaran oleh semua bidang studi atau mata pelajaran. Karena pembelajaran kooperatif dan beberapa hasil penelitian baik pakar pendidikan dalam maupun luar negeri telah memberikan dampak luas terhadap keberhasilan dalam proses pembelajaran. Dampak tersebut tidak saja kepada guru akan tetapi juga pada siswa, dan interaksi edukatif muncul dan terlihat peran dan fungsi dari guru maupun siswa.
Peran guru dalam pembelajaran kooperatif sebagai fasilitator, moderator, organisator dan mediator terlihat jelas. Kondisi ini peran dan fungsi siswa terlihat, keterlibatan semua siswa akan dapat memberikan suasana aktif dan pembelajaran terkesan demokratis, dan masing-masing siswa punya peran dan akan memberikan pengalaman belajarnya kepada siswa lain.
Berikut ini adalah beberapa keuntungan yang diperoleh baik oleh guru maupun siswa dalam pembelajaran,  menggunakan model pembelajaran kooperatif antara lain :
a)    Dapat menimbulkan suasana yang baru dalam pembelajaran.
b)   Membantu guna dalam mengidentifikasikan kesulitan-kesulitan yang dihadapi dan mencarikan alternatif pemecahannya.
c)    Penggunaanya pembelajaran kooperatif merupakan suatu model yang efektif untuk mengembangkan program pembelajaran terpadu  dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan reflektif.
d)    Mampu mengembangkan kesadaran pada diri siswa terhadap permasalahan-permasalan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.
e)    Mampu melatih siswa dalam berkomunikasi seperti berani mengemukakan pendapat, berani dikritik, mampu menghargai pendapat orang lain.
f)     Dari beberapa keuntungan dari model pembelajaran kooperatif di atas, maka jelaslah bagi kita bahwa keberhasilan suatu proses pendidikan dan pengajaran salah satunya ditentukan oleh kemampuan dan keterampilan guru dalam menggunakan strategi dan model pembelajaran yang digunakannya.

6.    Tipe-tipe Pebelajaran Kooperatif
Pada pembelajaran kooperatif ada beberapa tipe, antara lain:
A.    Tipe STAD
Pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Team Achievement Division) adalah pembelajaran kooperatif di mana siswa belajar dengan menggunakan kelompok kecil yang anggotanya heterogen dan menggunakan lembar kegiatan atau perangkat pembelajaran untuk menuntaskan materi pembelajaran, kemudian saling membantu satu sama lain untuk memahami bahan pembelajaran melalui tutorial, kuis satu sama lain dan atau melakukan diskusi.
B.    Tipe Jigsaw
Tipe Jigsaw adalah salah satu model pembelajaran kooperatif di mana pembelajaran melalui penggunaan kelompok kecil siswa yang bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran dan mendapatkan pengalaman belajar yang maksimal, baik pengalaman individu maupun pengalaman kelompok. Pada pembelajaran tipe Jigsaw ini setiap siswa menjadi anggota dari 2 kelompok, yaitu anggota kelompok asal dan anggota kelompok ahli. Anggota kelompok asal terdiri dari 3-5 siswa yang setiap anggotanya diberi nomor kepala 1-5. Nomor kepala yang sama pada kelompok asal berkumpul pada suatu kelompok yang disebut kelompok ahli.
C.    Investigasi Kelompok
Investigasi kelompok merupakan pembelajaran kooperatif yang paling komplek dan paling sulit untuk diterapkan, di mana siswa terlibat dalam perencanaan pemilihan topik yang dipelajari dan melakukan pentelidikan yang mendalam atas topik yang dipilihnya, selanjutnya menyiapkan dan mempresentasikan laporannya kepada seluruh kelas.
D.   Tipe Think Pair Share (TPS)
Model Think Pair Share tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model Think Pair Share dapat juga disebut sebagai model belajar-mengajar berpasangan. Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Tahap utama dalam pembelajaran Think-Pair-Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut:
1.Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta unuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut secara mandiri untuk beberapa saat.
2.Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefenisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru member waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3.Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan secara efektif dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya secara bergiliran dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain sehingga separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melaporkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar