Jumat, 25 September 2015

Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share) dan penerapannya di kelas



Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share)
1.   Pengertian Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share)
Model Think Pair Share tumbuh dari penelitian pembelajaran kooperatif, model Think Pair Share dapat juga disebut sebagai model belajar-mengajar berpasangan. Model pembelajaran Think Pair Share pertama kali dikembangkan oleh Frank Lyman dkk dari Universitas Maryland pada tahun 1985. Model pembelajaran tipe TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana. Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa (Lie, 2004:57). Model pembelajaran Think Pair Share adalah salah satu model pembelajaran yang memberi kesempatan kepada setiap siswa untuk menunjukkan partisipasi kepada orang lain.
Model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat mengembangkan keterampilan berfikir dan menjawab dalam komunikasi antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think Pair Share itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002: 57) bahwa, “Think Pair Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi, sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model pembelajaran Think Pair Share, siswa secara langsung dapat memecahkan masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

2.   Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Langkah-langkah dalam pembelajaran Think Pair Share sederhana, namun penting trutama dalam menghindari kesalahan-kesalahan kerja kelompok . Dalam model ini, guru meminta siswa untuk memikirkan suatu topik, berpasangan dengan siswa lain dan mendiskusikannya, kemudian berbagi ide dengan seluruh kelas. Tahap utama dalam pembelajaran Think Pair Share menurut Ibrahim (2000: 26-27) adalah sebagai berikut:
1.  Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang berhubungan dengan pelajaran. Kemudian siswa diminta unuk memikirkan jawaban pertanyaan tersebut secara mandiriuntuk beberapa saat.
2.   Pairing (berpasangan)
Guru meminta siswa berpasangan dengan siswa yang lain untuk mendiskusikan apa yang telah dipikirkan pada tahap pertama. Dalam tahap ini, setiap anggota pada kelompok membandingkan jawaban atau hasil pemikiran mereka dengan mendefenisikan jawaban yang dianggap paling benar, paling meyakinkan, atau paling unik. Biasanya guru member waktu 4-5 menit untuk berpasangan.
3.   Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir, guru meminta kepada pasangan untuk berbagi atau bekerja sama dengan kelas secara keseluruhan tentang apa yang telah mereka bicarakan. Keterampilan berbagi dalam seluruh kelas dapat dilakukan secara efektif dengan menunjuk pasangan yang secara sukarela bersedia melaporkan hasil kerja kelompoknya secara bergiliran dari pasangan yang satu ke pasangan yang lain sehingga separuh dari pasangan-pasangan tersebut memperoleh kesempatan untuk melaporkan.
3.    Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran TPS (Think Pair Share)
a.   Kelebihan Model Pembelajaran TPS.
Menurut Hartina (2008 : 15) kelebihan dari model pembelajaran kooperatif tipe TPS, yaitu :
1.    Memungkinkan siswa untuk merumuskan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai materi yang diajarkan karena secara tidak langsung memperoleh contoh pertanyaan yang diajukan oleh guru, serta memperoleh kesempatan untuk memikirkan materi yang diajarkan.
2.    Siswa akan terlatih menerapkan konsep karena bertukar pendapat dan pemikiran dengan temannya untuk mendapatkan kesepakatan dalam memecahkan masalah.
3.    Siswa lebih aktif dalam pembelajaran karena menyelesaikan tugasnya dalam kelompok, dimana tiap kelompok hanya terdiri dari 2 orang.
4.    Siswa memperoleh kesempatan untuk mempersentasikan hasil diskusinya dengan seluruh siswa sehingga ide yang ada menyebar.
5.    Memberi siswa waktu lebih banyak untuk berfikir, menjawab, dan saling membantu satu dengan yang lain.

Senada dengan Hartina, Lie (2005 : 46) mengemukakan kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe TPS adalah :
1.    Lebih banyak kesempatan untuk konstribusi masing-masing anggota kelompok.
2.    Interaksi lebih mudah.
3.    Lebih mudah dan cepat membentuk kelompoknya.
4.    Dapat memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam kelas.
5.    Memungkinkan guru untuk lebih banyak memantau siswa dalam proses pembelajaran.
6.    Penerimaan terhadap individu lebih besar.
7.    Hasil belajar lebih mendalam.

b.   Kelemahan Model Pembelajaran TPS.
Menurut Lie (2005 : 46) kelemahan model pembelajaran tipe TPS yaitu :
1.    Mengubah kebiasaan siswa belajar dari yang dengan cara mendengarkan ceramah diganti dengan belajar berfikir memecahkan masalah secara kelompok.
2.    Membutuhkan perhatian khusus dalam penggunaan ruangan kelas.
3.    Peralihan dari seluruh kelas ke kelompok kecil dapat menyita waktu pengajaran yang berharga.
4.    Banyak kelompok yang melapor dan perlu dimonitor.
5.    Lebih sedikit ide yang muncul.
6.    Jika ada perselisihan, tidak ada penengah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar